Jakarta, Santriinspirasi.com – Puncak Penganugrahan Santri of The Year 2024, memberikan Penghargaan untuk KH. As’ad Syamsul Arifin sebagai “Pahlawan Santri” Nasional, di Gdg. Nusantara IV DPR/MPR RI, Minggu (22/09). Penghargaan ini diberikan mengingat dan menteladani perjuangan Kiai As’ad untuk bangsa dan negara. Baik dalam bidang militer maupun keilmuan.
Jauh sebelumnya, melalui keputusan Presiden RI NO 90/TK/Tahun 2016/tanggal 3 November 2016. KH. As’ad Syamsul Arifin (1897-1990) telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Kiai Syamsul Arifin merupakan salah satu dari sedikit pahlawan santri. Masih banyak pahlawan kiai-santri tanpa pamrih yang berjuang untuk bangsa negara.

Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2024, ini adalah momen penting membaca sejarah para pahlawan santri. Penghargaan tersebut diterima oleh KH. R. Ahmad Azaim Ibrahimy (Pengasuh PP. Salafiyah Syafiiyah Sukorejo) mewakili keluarga KH. As’ad Syamsul Arifin. Ia menyampaikan pesan dsri Kiai As’ad bahwa “santri bukan hanya cadangan pesantren, tapi juga cadangan negara. Santri harus membekali dirinya untuk jadi cadangan pesantren dan negara.”

Bagaimana peran, kiprah perjuangan kiai Arifin dalam menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan? berikut profil dan sedikit kisah perjuangannya.
KH As’ad Syamsul Arifin lahir Sy’ib, Makkah pada tahun 1897 M/1315 H dari pasangan KH Syamsul Arifin dan Nyai Hj Siti Maimunah ketika mereka menunaikan ibadah haji.
Ketika As’ad Syamsul Arifin menginjak usia enam tahun, ia dibawa pulang oleh orang tuanya ke Indonesia, sementara saudaranya bernama Abdurrahman dititipkan kepada saudara sepupunya yang tinggal di Makkah, Arab Saudi. Pendidikan dan sanad keilmuan Awalnya, As’ad dan keluarganya tinggal di pondok pesantren keluarganya di Kembang Kuning, Pamekasan, Madura. Setelah 4-5 tahun, mereka pindah ke Sukorejo, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur yang saat itu masih berupa hutan belantara.
Pengembaraan dalam Menuntut Ilmu
Pengembaraan awalnya dalam menuntut ilmu, KH Syamsul Arifin mengirim As’ad ke Pondok Pesantren Banyuanyar yang didirikan KH Itsbat Hasan pada tahun 1785 M. Ketika As’ad masuk, Pesantren Banyuanyar diasuh oleh KH Abdul Majid dan KH Abdul Hamid. Di Pesantren Banyuanyar, As’ad nyantri selama tiga tahun (1910-1913).
Setelah dari tiga tahun nyantri di Pesantren Banyuanyar, As’ad kemudian dikirim ayahnya ke Madrasah Shaulatiyah. Perguruan yang cukup terkemuka di Makkah. Di Madrasah Shaulatiyah, As’ad bertemu dengan beberapa santri dari Indonesia seperti Zaini Mun’im, Ahmad Thoha, Muhammadun, dan Baidlowi Lasem. Di Madrasah Shaulatiyah, As’ad berguru kepada Sayyid Abbas al-Maliki (ayah dari Sayyid Alwi al-Maliki), Syekh Hasan al-Yamani, Syekh Muhammad Amin al-Quthbi, Syekh Bakir, dan Syekh Syarif Syanqithi.
Setelah beberapa tahun di Madrasah Shaulatiyah, As’ad kembali ke Indonesia dan berguru kepada KH Nawawi (Pesantren Sidogiri), KH Khazin (Pesantren Panji Siwalan), KH Cholil Bangkalan (Pesantren Kademangan), dan KH Hasyim Asy’ari (Pesantren Tebuireng).
Sepeninggal sang ayah KH Syamsul Arifin pada tahun 1951, kepengasuhan pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah diberikan kepada Kiai As’ad. Di bawah asuhannya, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah mengalami perkembangan yang cukup pesat, sehingga pada tahun 1968 berdirilah sebuah Universitas Syafi’iyah dengan Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Dakwah (saat ini Universitas Ibrahimy) juga sejumlah layanan pendidikan formal di berbagai jenjang.
Melawan penjajah Belanda dan Jepang
Di era pergerakan nasional melawan penjajah Belanda dan Jepang, KH As’ad Syamsul Arifin aktif memberikan perlawanan. Ia ikut dalam perang gerilya pada masa revolusi fisik tahun 1945-1949. Dalam perang gerilya tersebut, ia bersama barisan pelopornya berhasil merampas senjata-senjata milik pasukan Belanda di daerah Gudang Mesiu Dabasah Bondowoso (sekitar akhir Juli 1947). Adapun pada 10 November 1945, Kiai As’ad Syamsul Arifin membantu pertempuran di Surabaya dengan mengirim anggota pelopor dan pasukan Sabilillah Situbondo dan Bondowoso ke daerah Tanjung Perak. Pasukan yang dikirimnya terlibat pertempuran hebat di Jembatan Merah Surabaya.

No responses yet